Langsung ke konten utama

Postingan

Semoga Tersemogakan

Saya akan menyelesaikan apa yang telah saya mulai dengan segala risiko yang akan saya terima. Itu adalah motto saya ketika saya berposisi sebagai seorang pejuang kursi kampus dan karena itu saya senantiasa belajar semaksimal mungkin demi mendapatkan kampus impian. Alhamdulillah saya lolos dalam SNMPTN di Fakultas Pertanian Program Studi S1 Agroteknologi Universitas Sebelas Maret. Selain itu saya juga berhasil lolos SIPENMARU Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta. Namun bukan dua kampus tersebut yang menjadi dasar motto saya diatas karena kedua kampus itu menerima saya tanpa melalui tes sama sekali. Pada saat saya membuat motto diatas, saya adalah pejuang kursi di Politeknik Keuangan Negara STAN. Jujur saja, awalnya saya tidak tertarik sama sekali dengan kampus yang satu ini. Namun, pada awal tahun 2017 ada sosialisai mahasiswa PKN STAN Klaten di sekolah saya. Saya ingat betul, awal mula yang membuat saya tertarik mengenai kampus ini adalah ada dua mahasiswa jurusan kepabeanan...

Curhat Buat Sahabat

20 September 2017 Halo. Hari ini hari rabu. Suara rintik hujan sayup-sayup terdengar, sisa-sisa hujan deras selepas maghrib dari jendela yang sengaja aku buka. Oh iya, aku menulis ini dengan kondisi badan yang kurang baik. Temanku bilang aku sedang demam, ditambah lagi dengan sariawan dimana-mana yang menyebabkan aku mengurangi jatah makan dan berbicaraku, bukan karena sedang malas, hanya saja itu kadang menyakitkan untuk dikerjakan. Aku pernah ke poliklinik dengan keluhan yang sama dengan apa yang terjadi padaku hari ini, namun hari ini aku belum sempat melakukannya lagi.   Sekarang pukul tujuh lebih sembilan belas, masih menunggu pesan yang belum terbalas. Satu lagi buku baru saja rampung aku baca. Kali ini masih dengan kitab hasil karya seorang penulis bernama pena Dee Lestari. Judulnya Rectoverso , berisikan sebelas cerita pendek dengan kesan masing-masing bagiku. Benar, Rectoverso ini adalah karya lawas yang bahkan sudah difilmkan. Namun, kupikir apa salahnya untu...

Hitam

Pernahkah kau pejamkan mata ? Ya, hanya hitam, remang, semua menghilang. Pernahkah kau bayangkan ? Ketika senja telah pergi, tanpa cahaya, hanya gulita, tanpa pelita. Ditengah sunyi kali ini, izinkan penaku merindu. Izinkan tinta hitam ini membasuh hangatnya sapamu dalam goresan naif untukmu. Izinkan aku merindu, pada lengkungan tipis bibir manis itu. Izinkan aku merindu, pada tiap detik saat aku bersamamu. Izinkan aku merindu, padamu.

Kelabu

Dia, seorang dara yang selalu menyukai hujan. Dia, seorang perempuan yang suka ketika titik-titik air itu datang menghujam. Entah. Mungkin karena dia terlanjur percaya, bahwa akan ada pelangi saat hujan mereda. Dia, seoarang perempuan yang berlari menuju padang ketika hujan mereda, bermimpi dan berangan, bersama pelangi dan sebuah bayangan. Namun kini dia patah hati, karena dia yang terlanjur menanti, namun busur itu tak kunjung tampak. Oh, pelangi. Wahai nona, jikalau hatimu tak lapang, bagaimana cinta baru mendapat ruang. Dia, seorang perempuan yang kini mengutuki kelabu. Betapa ia kini membenci hujan, yang kerap menghujamkan sembilu yang teramat dalam. Maaf.

Putih

Kita. Merajut kasih dikala gelap. Menikmati tiap prosesnya bersama fajar. Membangunkan tiap-tiap jiwa dari lelap. Menciptakan rindu yang menjalar-jalar. Entah. Terkadang beberapa sesal muncul begitu saja. Ketika memori masa laluku terbayang seketika. Ya. Aku selalu tahu. Dan tak mungkin aku tak tahu. Bait-bait itu. Sajak-sajak itu. Dan semua tentang masa-masa itu. Mungkin karena itulah, sesal ini enggan berlalu. Kali ini, sesalku tercipta karenamu. Ya, ini untukmu. Wahai nona yang kini menjadi secuil awan putih. Ditengah angkasa yang maha luas. Sendirian. Kesepian. Maaf.

Biru

Dingin yang menusuk tulang ketika hujan datang bersama remang biru pekat yang petang. Sunyi menelusup datang. Dengan kafein kucoba perlahan hiraukan. Sunyi kali ini sangatlah berbeda. Tiada pernah aku suka. Tiada lamunan syahdu ataupun doa. Hening ini mencabik sukma seketika. Cakrawala gelap, seperti rasa khawatir. Mengendapkannya bersama lelap, berharap beberapa kata darimu hadir. Andaikan saja jarak tiada pernah ada. Mungkin entah dalam hati tak akan pernah tercipta. Bersama langit biru pekat. Aku merindukanmu, wahai seseorang yang membuatku terpikat.

Merah

Bersama senja, aku temukan suasana paling teduh. Bersamanya, hati ini luluh. Seperti biasa, aku menikmati goresan cahaya yang perlahan sirna. Seperti biasa, aku menikmati pudarnya jingga. Melawan angin rindu yang biasanya, tumbuh keinginan untuk selalu bersamanya. Aku tak pernah siap untuk merindu. Untuknya, aku ingin kata-kata kita saling beradu. Untuknya, aku tak pernah ingin engkau membisu. Aku hanya ingin kita bisa sejenak bercengkrama. Tanpa peduli apa siapa ataupun bagaimana. Cakrawala senja yang merah, ciptakan hati dengan secarik gelisah. Entah.