Langsung ke konten utama

Semoga Tersemogakan

Saya akan menyelesaikan apa yang telah saya mulai dengan segala risiko yang akan saya terima.



Itu adalah motto saya ketika saya berposisi sebagai seorang pejuang kursi kampus dan karena itu saya senantiasa belajar semaksimal mungkin demi mendapatkan kampus impian. Alhamdulillah saya lolos dalam SNMPTN di Fakultas Pertanian Program Studi S1 Agroteknologi Universitas Sebelas Maret. Selain itu saya juga berhasil lolos SIPENMARU Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta. Namun bukan dua kampus tersebut yang menjadi dasar motto saya diatas karena kedua kampus itu menerima saya tanpa melalui tes sama sekali. Pada saat saya membuat motto diatas, saya adalah pejuang kursi di Politeknik Keuangan Negara STAN. Jujur saja, awalnya saya tidak tertarik sama sekali dengan kampus yang satu ini. Namun, pada awal tahun 2017 ada sosialisai mahasiswa PKN STAN Klaten di sekolah saya. Saya ingat betul, awal mula yang membuat saya tertarik mengenai kampus ini adalah ada dua mahasiswa jurusan kepabeanan dan cukai memakai Pakaian Dinas Harian kebanggaan mereka. Sungguh, itu sangat terlihat keren. Bermula dari sana, saya tertarik dengan jurusan ini dan memperjuangkannya. Beberapa minggu setelah sosialisasi itu, saya mulai mendaftar di bimbingan belajar khusus untuk masuk ke kampus ini. Selain itu saya juga sering melakukan latihan fisik bersama teman-teman sekolah saya sesama pejuang “Pakaian Dinas Harian”. Bedanya, teman-teman saya tidak semuanya berminat di Politeknik Keuangan Negara STAN, ada yang mendaftar Akademi Angkatan Udara, Sekolah Tinggi Pertanahan Negara, Akademi Imigrasi, dan beberapa sekolah yang menyediakan “Pakaian Dinas Harian” bagi mahasiswanya. Hampir setiap dua hari sekali saya dan teman-teman seperjuangan saya mengunjungi Stadion Trikoyo, stadion satu-satunya di Kota Klaten, untuk sekadar jogging. Setelah beberapa hari mengikuti bimbingan belajar, saya akhirnya mendaftar untuk mengikuti Ujian Saringan Masuk Politeknik Keuangan Negara STAN. Pada hari itu juga, motto saya ini tercipta.

Seiring dengan berjalannya waktu, tahap demi tahap saya lalui sampai pada akhirnya keluar pengumuman final. Saya masih ingat betul, waktu itu masih bulan ramadhan dan saya menghadiri undangan untuk sekadar berkumpul dan berbuka bersama di salah satu cafe di Klaten dengan teman-teman kelas saya waktu SMP. Seusai membatalkan puasa dengan beberapa teguk es teh, saya menuju ke mushola cafe untuk menunaikan shalat maghrib. Kemudian, saat saya kembali ke meja tempat saya dan teman-teman saya, beberapa teman menjabat tangan saya sembari mengucapkan selamat.

Selamat yo, Ham, koe cen mantap” yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi ”Selamat ya, Ham, kamu memang mantap”

Haa ? Selamat apa? Saya bingung waktu itu. Sampai akhirnya teman saya memperlihatkan layar smartphone miliknya. Di layar tersebut tertulis nama saya dan beberapa nama “Ilham” yang lain. Di sisi kanan, tertulis “D-III KEPABEANAN DAN CUKAI”. Sontak saya kaget, bahagia, bersyukur, dan sangat merasa beruntung, satu lagi doa ibu saya terkabulkan. Saya resmi lolos ujian untuk masuk Politeknik Keuangan Negara STAN di jurusan yang saya inginkan. Tidak hanya saya, melainkan ada lima orang lain di acara buka bersama tersebut yang lolos ujian masuk kampus ini dan tinggal menyelesaikan daftar ulang untuk resmi diterima sebagai mahasiswa baru.

Beberapa bulan berlalu. Sekarang bulan September. Sudah tiga minggu saya menjalani kuliah saya di Bintaro. Sebelumnya, saya sempat menjalani pelatihan mental dan fisik oleh senior saya di Rawamangun selama empat hari. Kesemimiliteran jurusan saya di kampus rawamangun sangat terasa berat. Saya sempat merasa tidak kuat jika melakukan ini selama beberapa bulan. Hanya empat hari saja saya sudah sangat lemas, badan sakit semua, pandangan kunang-kunang, kaki dan lengan sempat beberapa kali mati rasa. Barak sebagai tempat istiharat paling nyaman pun tidak lantas membuat tidur saya menjadi nyenyak karena pikiran saya kemana-mana. Namun semua itu salah, senior menyadarkan saya, kuat atau tidak kuat itu pilihan dan kita sendiri yang tentukan. Mental diatas fisik. Begitu senior saya bilang. Ketika dihadapkan pada suatu masalah, sudah sepantasnya kita optimis bahwa kita selalu siap. Ketika kita berpikir bahwa kita tidak bisa, bagaimanapun kita berusaha akan tetap tidak bisa. Namun sebaliknya, ketika kita sudah yakin, kita akan menjadi pribadi yang senantiasa terus berjuang. Fisik saya memang lemah jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain, apalagi jika dibandingkan dengan senior saya yang massa ototnya sudah seperti binaragawan. Namun, saya akan terus berjuang untuk meningkatkan kualitas diri saya.

Dinamika awal perkuliahan saya di kampus ini tidak selamanya lancar, saya agak kesulitan dalam belajar karena keterbatasan literatur yang kalaupun ada saya dapat literatur berbahasa Inggris yang agak sulit saya pahami. Dalam tiga minggu ini saya pernah menjalani kuis sekali, mata kuliah statistika. Saya sudah belajar semalaman, sudah bersungguh-sungguh untuk bisa paham materi yang ada dalam buku yang tenar dengan sebutan buku “Triola”. Namun pada pagi harinya, saat kuis selesai, coba tebak berapa nilai yang saya dapatkan. Tiga puluh dua. Nilai pertama saya di kampus ini. Tiga puluh dua. Jujur, saya sangat kecewa. Kecewa sekali. Bagaimana sih perasaan anda ketika anda sudah berusaha namun hasilnya masih sangat kurang dari ekspektasi anda ? Kecewa, kan ? Iya, saya paham, mungkin sebagian pembaca berfikir bahwa saya kurang belajar. Saya menyadarinya. Sebenarnya materi pdf sudah dibagi seminggu sebelum kuis, namun setiap saya baca, mata saya tidak bertahan lama dan materi dalam bentuk buku baru dibagikan sehari sebelum kuis berlangsung. Saat saya menulis bagian ini, waktu menunjukkan pukul  14.14 beberapa jam lagi perkuliahan penganti statistik akan dimulai. Asal pembaca tahu, dosen statistik saya menginginkan kuis di setiap awal kuliahnya. Setelah ini, saya akan bertemu teman saya untuk meminta tentir karena hanya dengan membaca literatur yang berbahasa inggris tanpa dijelaskan akan suit bagi saya untuk paham.


Semoga saya memberikan kabar baik terkait nilai saya kepada anda di postingan saya berikutnya. Aamiin.

Salam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merah

Bersama senja, aku temukan suasana paling teduh. Bersamanya, hati ini luluh. Seperti biasa, aku menikmati goresan cahaya yang perlahan sirna. Seperti biasa, aku menikmati pudarnya jingga. Melawan angin rindu yang biasanya, tumbuh keinginan untuk selalu bersamanya. Aku tak pernah siap untuk merindu. Untuknya, aku ingin kata-kata kita saling beradu. Untuknya, aku tak pernah ingin engkau membisu. Aku hanya ingin kita bisa sejenak bercengkrama. Tanpa peduli apa siapa ataupun bagaimana. Cakrawala senja yang merah, ciptakan hati dengan secarik gelisah. Entah.

Putih

Kita. Merajut kasih dikala gelap. Menikmati tiap prosesnya bersama fajar. Membangunkan tiap-tiap jiwa dari lelap. Menciptakan rindu yang menjalar-jalar. Entah. Terkadang beberapa sesal muncul begitu saja. Ketika memori masa laluku terbayang seketika. Ya. Aku selalu tahu. Dan tak mungkin aku tak tahu. Bait-bait itu. Sajak-sajak itu. Dan semua tentang masa-masa itu. Mungkin karena itulah, sesal ini enggan berlalu. Kali ini, sesalku tercipta karenamu. Ya, ini untukmu. Wahai nona yang kini menjadi secuil awan putih. Ditengah angkasa yang maha luas. Sendirian. Kesepian. Maaf.