Langsung ke konten utama

Merah


Bersama senja, aku temukan suasana paling teduh.
Bersamanya, hati ini luluh.
Seperti biasa, aku menikmati goresan cahaya yang perlahan sirna.
Seperti biasa, aku menikmati pudarnya jingga.
Melawan angin rindu yang biasanya, tumbuh keinginan untuk selalu bersamanya.
Aku tak pernah siap untuk merindu. Untuknya, aku ingin kata-kata kita saling beradu. Untuknya, aku tak pernah ingin engkau membisu.
Aku hanya ingin kita bisa sejenak bercengkrama. Tanpa peduli apa siapa ataupun bagaimana.
Cakrawala senja yang merah, ciptakan hati dengan secarik gelisah.
Entah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sajak untuk Beranjak

Beranjak ? Entah sudah berapa lama kakiku tak melangkah. Menantikan kau, seseorang yang telah berada di antah berantah. Yang terasa kian menjauh, yang tak bisa kukejar walau telah berpeluh peluh. Mungkin saja kau telah bahagia dengan duniamu yang baru, yang mungkin saja kau anggap lebih cemerlang tanpa kehadiranku. Ketahuilah, asalkan saja ku tau jika kau bahagia aku pun dapat menerimanya. Meski harus berteman dengan kesendirian yang meracun diriku secara perlahan, dan kehampaan yang tanpa permisi menelusup dalam hati. Ayunan gontai kakiku berusaha beranjak. Menjelma menjadi segelayut luka yang menghiasi sepetak altar dalam jiwa. Tempat dimana dulu kau bercengkerama manja hingga langit berubah jingga merona. Disini, disebuah tempat yang redup kau menciptakan siluet sang senja. Diujung malam, diantara gelap yang tersadar. Aku menatap langit dengan milyaran bintang, dan secuil rindu yang meraksasa diangkasa. Di temani sang dewi malam yang menatapku dengan pandangannya yang s...

Perihal Rindu

Wahai Tuan, apa untungnya memupuk rindu ? Tentu ada, mengapa puan bertanya seperti itu ? Karna rindu yang aku dapati yang ada hanya menyayat hati. Lantas apa untungnya bagimu tuan ? Wahai puan, hakikatnya rindu tidaklah menyayat hati. Pun, jika memang begitu yang puan dapat, puan telah salah menaruh hati. Bintaro, 29 Juli 2018

Belum ada judul

Semalam hujan, aku rindu. Tidak seperti di kota kelahiranku, Disini matahari terbit malu-malu. Bukan semburat jingga yang menyapaku. Namun hamparan luas lazuardi tanpa ini itu, Seketika memenuhi cakrawala tanah rantau. Aku rindu. Bintaro, 19 Oktober 2018