Langsung ke konten utama

Merah


Bersama senja, aku temukan suasana paling teduh.
Bersamanya, hati ini luluh.
Seperti biasa, aku menikmati goresan cahaya yang perlahan sirna.
Seperti biasa, aku menikmati pudarnya jingga.
Melawan angin rindu yang biasanya, tumbuh keinginan untuk selalu bersamanya.
Aku tak pernah siap untuk merindu. Untuknya, aku ingin kata-kata kita saling beradu. Untuknya, aku tak pernah ingin engkau membisu.
Aku hanya ingin kita bisa sejenak bercengkrama. Tanpa peduli apa siapa ataupun bagaimana.
Cakrawala senja yang merah, ciptakan hati dengan secarik gelisah.
Entah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal Rindu

Wahai Tuan, apa untungnya memupuk rindu ? Tentu ada, mengapa puan bertanya seperti itu ? Karna rindu yang aku dapati yang ada hanya menyayat hati. Lantas apa untungnya bagimu tuan ? Wahai puan, hakikatnya rindu tidaklah menyayat hati. Pun, jika memang begitu yang puan dapat, puan telah salah menaruh hati. Bintaro, 29 Juli 2018

Belum ada judul

Semalam hujan, aku rindu. Tidak seperti di kota kelahiranku, Disini matahari terbit malu-malu. Bukan semburat jingga yang menyapaku. Namun hamparan luas lazuardi tanpa ini itu, Seketika memenuhi cakrawala tanah rantau. Aku rindu. Bintaro, 19 Oktober 2018