Langsung ke konten utama

Biru


Dingin yang menusuk tulang ketika hujan datang bersama remang biru pekat yang petang.
Sunyi menelusup datang. Dengan kafein kucoba perlahan hiraukan.
Sunyi kali ini sangatlah berbeda.
Tiada pernah aku suka.
Tiada lamunan syahdu ataupun doa.
Hening ini mencabik sukma seketika.
Cakrawala gelap, seperti rasa khawatir. Mengendapkannya bersama lelap, berharap beberapa kata darimu hadir.
Andaikan saja jarak tiada pernah ada. Mungkin entah dalam hati tak akan pernah tercipta.
Bersama langit biru pekat. Aku merindukanmu, wahai seseorang yang membuatku terpikat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merah

Bersama senja, aku temukan suasana paling teduh. Bersamanya, hati ini luluh. Seperti biasa, aku menikmati goresan cahaya yang perlahan sirna. Seperti biasa, aku menikmati pudarnya jingga. Melawan angin rindu yang biasanya, tumbuh keinginan untuk selalu bersamanya. Aku tak pernah siap untuk merindu. Untuknya, aku ingin kata-kata kita saling beradu. Untuknya, aku tak pernah ingin engkau membisu. Aku hanya ingin kita bisa sejenak bercengkrama. Tanpa peduli apa siapa ataupun bagaimana. Cakrawala senja yang merah, ciptakan hati dengan secarik gelisah. Entah.

Putih

Kita. Merajut kasih dikala gelap. Menikmati tiap prosesnya bersama fajar. Membangunkan tiap-tiap jiwa dari lelap. Menciptakan rindu yang menjalar-jalar. Entah. Terkadang beberapa sesal muncul begitu saja. Ketika memori masa laluku terbayang seketika. Ya. Aku selalu tahu. Dan tak mungkin aku tak tahu. Bait-bait itu. Sajak-sajak itu. Dan semua tentang masa-masa itu. Mungkin karena itulah, sesal ini enggan berlalu. Kali ini, sesalku tercipta karenamu. Ya, ini untukmu. Wahai nona yang kini menjadi secuil awan putih. Ditengah angkasa yang maha luas. Sendirian. Kesepian. Maaf.