Langsung ke konten utama

Biru


Dingin yang menusuk tulang ketika hujan datang bersama remang biru pekat yang petang.
Sunyi menelusup datang. Dengan kafein kucoba perlahan hiraukan.
Sunyi kali ini sangatlah berbeda.
Tiada pernah aku suka.
Tiada lamunan syahdu ataupun doa.
Hening ini mencabik sukma seketika.
Cakrawala gelap, seperti rasa khawatir. Mengendapkannya bersama lelap, berharap beberapa kata darimu hadir.
Andaikan saja jarak tiada pernah ada. Mungkin entah dalam hati tak akan pernah tercipta.
Bersama langit biru pekat. Aku merindukanmu, wahai seseorang yang membuatku terpikat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belum ada judul

Semalam hujan, aku rindu. Tidak seperti di kota kelahiranku, Disini matahari terbit malu-malu. Bukan semburat jingga yang menyapaku. Namun hamparan luas lazuardi tanpa ini itu, Seketika memenuhi cakrawala tanah rantau. Aku rindu. Bintaro, 19 Oktober 2018

Putih

Kita. Merajut kasih dikala gelap. Menikmati tiap prosesnya bersama fajar. Membangunkan tiap-tiap jiwa dari lelap. Menciptakan rindu yang menjalar-jalar. Entah. Terkadang beberapa sesal muncul begitu saja. Ketika memori masa laluku terbayang seketika. Ya. Aku selalu tahu. Dan tak mungkin aku tak tahu. Bait-bait itu. Sajak-sajak itu. Dan semua tentang masa-masa itu. Mungkin karena itulah, sesal ini enggan berlalu. Kali ini, sesalku tercipta karenamu. Ya, ini untukmu. Wahai nona yang kini menjadi secuil awan putih. Ditengah angkasa yang maha luas. Sendirian. Kesepian. Maaf.

Sajak untuk Beranjak

Beranjak ? Entah sudah berapa lama kakiku tak melangkah. Menantikan kau, seseorang yang telah berada di antah berantah. Yang terasa kian menjauh, yang tak bisa kukejar walau telah berpeluh peluh. Mungkin saja kau telah bahagia dengan duniamu yang baru, yang mungkin saja kau anggap lebih cemerlang tanpa kehadiranku. Ketahuilah, asalkan saja ku tau jika kau bahagia aku pun dapat menerimanya. Meski harus berteman dengan kesendirian yang meracun diriku secara perlahan, dan kehampaan yang tanpa permisi menelusup dalam hati. Ayunan gontai kakiku berusaha beranjak. Menjelma menjadi segelayut luka yang menghiasi sepetak altar dalam jiwa. Tempat dimana dulu kau bercengkerama manja hingga langit berubah jingga merona. Disini, disebuah tempat yang redup kau menciptakan siluet sang senja. Diujung malam, diantara gelap yang tersadar. Aku menatap langit dengan milyaran bintang, dan secuil rindu yang meraksasa diangkasa. Di temani sang dewi malam yang menatapku dengan pandangannya yang s...