Langsung ke konten utama

Kelabu


Dia, seorang dara yang selalu menyukai hujan. Dia, seorang perempuan yang suka ketika titik-titik air itu datang menghujam.
Entah.
Mungkin karena dia terlanjur percaya, bahwa akan ada pelangi saat hujan mereda.
Dia, seoarang perempuan yang berlari menuju padang ketika hujan mereda, bermimpi dan berangan, bersama pelangi dan sebuah bayangan.
Namun kini dia patah hati, karena dia yang terlanjur menanti, namun busur itu tak kunjung tampak. Oh, pelangi.
Wahai nona, jikalau hatimu tak lapang, bagaimana cinta baru mendapat ruang.
Dia, seorang perempuan yang kini mengutuki kelabu. Betapa ia kini membenci hujan, yang kerap menghujamkan sembilu yang teramat dalam.
Maaf.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merah

Bersama senja, aku temukan suasana paling teduh. Bersamanya, hati ini luluh. Seperti biasa, aku menikmati goresan cahaya yang perlahan sirna. Seperti biasa, aku menikmati pudarnya jingga. Melawan angin rindu yang biasanya, tumbuh keinginan untuk selalu bersamanya. Aku tak pernah siap untuk merindu. Untuknya, aku ingin kata-kata kita saling beradu. Untuknya, aku tak pernah ingin engkau membisu. Aku hanya ingin kita bisa sejenak bercengkrama. Tanpa peduli apa siapa ataupun bagaimana. Cakrawala senja yang merah, ciptakan hati dengan secarik gelisah. Entah.

Belum ada judul

Semalam hujan, aku rindu. Tidak seperti di kota kelahiranku, Disini matahari terbit malu-malu. Bukan semburat jingga yang menyapaku. Namun hamparan luas lazuardi tanpa ini itu, Seketika memenuhi cakrawala tanah rantau. Aku rindu. Bintaro, 19 Oktober 2018