Dia, seorang dara yang selalu menyukai hujan. Dia, seorang perempuan yang suka ketika titik-titik air itu datang menghujam.
Entah.
Mungkin karena dia terlanjur percaya, bahwa akan ada pelangi saat hujan mereda.
Dia, seoarang perempuan yang berlari menuju padang ketika hujan mereda, bermimpi dan berangan, bersama pelangi dan sebuah bayangan.
Namun kini dia patah hati, karena dia yang terlanjur menanti, namun busur itu tak kunjung tampak. Oh, pelangi.
Wahai nona, jikalau hatimu tak lapang, bagaimana cinta baru mendapat ruang.
Dia, seorang perempuan yang kini mengutuki kelabu. Betapa ia kini membenci hujan, yang kerap menghujamkan sembilu yang teramat dalam.
Maaf.
Komentar
Posting Komentar