Langsung ke konten utama

Hitam


Pernahkah kau pejamkan mata ?
Ya, hanya hitam, remang, semua menghilang.
Pernahkah kau bayangkan ?
Ketika senja telah pergi, tanpa cahaya, hanya gulita, tanpa pelita.
Ditengah sunyi kali ini, izinkan penaku merindu.
Izinkan tinta hitam ini membasuh hangatnya sapamu dalam goresan naif untukmu.
Izinkan aku merindu, pada lengkungan tipis bibir manis itu.
Izinkan aku merindu, pada tiap detik saat aku bersamamu.
Izinkan aku merindu, padamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merah

Bersama senja, aku temukan suasana paling teduh. Bersamanya, hati ini luluh. Seperti biasa, aku menikmati goresan cahaya yang perlahan sirna. Seperti biasa, aku menikmati pudarnya jingga. Melawan angin rindu yang biasanya, tumbuh keinginan untuk selalu bersamanya. Aku tak pernah siap untuk merindu. Untuknya, aku ingin kata-kata kita saling beradu. Untuknya, aku tak pernah ingin engkau membisu. Aku hanya ingin kita bisa sejenak bercengkrama. Tanpa peduli apa siapa ataupun bagaimana. Cakrawala senja yang merah, ciptakan hati dengan secarik gelisah. Entah.

Perihal Rindu

Wahai Tuan, apa untungnya memupuk rindu ? Tentu ada, mengapa puan bertanya seperti itu ? Karna rindu yang aku dapati yang ada hanya menyayat hati. Lantas apa untungnya bagimu tuan ? Wahai puan, hakikatnya rindu tidaklah menyayat hati. Pun, jika memang begitu yang puan dapat, puan telah salah menaruh hati. Bintaro, 29 Juli 2018

Belum ada judul

Semalam hujan, aku rindu. Tidak seperti di kota kelahiranku, Disini matahari terbit malu-malu. Bukan semburat jingga yang menyapaku. Namun hamparan luas lazuardi tanpa ini itu, Seketika memenuhi cakrawala tanah rantau. Aku rindu. Bintaro, 19 Oktober 2018