Langsung ke konten utama

Curhat Buat Sahabat

20 September 2017

Halo.

Hari ini hari rabu. Suara rintik hujan sayup-sayup terdengar, sisa-sisa hujan deras selepas maghrib dari jendela yang sengaja aku buka. Oh iya, aku menulis ini dengan kondisi badan yang kurang baik. Temanku bilang aku sedang demam, ditambah lagi dengan sariawan dimana-mana yang menyebabkan aku mengurangi jatah makan dan berbicaraku, bukan karena sedang malas, hanya saja itu kadang menyakitkan untuk dikerjakan. Aku pernah ke poliklinik dengan keluhan yang sama dengan apa yang terjadi padaku hari ini, namun hari ini aku belum sempat melakukannya lagi.  

Sekarang pukul tujuh lebih sembilan belas, masih menunggu pesan yang belum terbalas. Satu lagi buku baru saja rampung aku baca. Kali ini masih dengan kitab hasil karya seorang penulis bernama pena Dee Lestari. Judulnya Rectoverso ,berisikan sebelas cerita pendek dengan kesan masing-masing bagiku. Benar, Rectoverso ini adalah karya lawas yang bahkan sudah difilmkan. Namun, kupikir apa salahnya untuk membaca. Buku ini bukan aku yang punya, melainkan aku hanya meminjam dari salah seorang mahasiswa jurusan akuntansi seminggu yang lalu.

Cerita-cerita dalam buku ini tidaklah saling berhubungan. Cerita pertama berjudul Curhat Buat Sahabat. Menceritakan sepasang sahabat dengan dua cinta. Seorang lelaki yang berusaha keras dan amat sangat peduli dengan sahabatnya. Dia yang rela menembus deras hujan dan gelap malam hanya untuk membawakan obat dan segelas air putih untuk sahabatnya ketika demam tanpa peduli baju basah kuyup karenanya. Dia selalu setia mendengarkan semua cerita-cerita sahabatnya. Cerita yang kerap berganti selama lima tahun terakhir. Semenjak sahabatnya itu tergila-gila pada seorang lelaki. Kadang cerita bahagia, kadang biasa-biasa saja, kadang cerita nelangsa. Namun, satu yang salah dari lelaki itu. Dalam kata yang tak pernah ia ucapkan, sejujurnya ia jatuh hati. Lelaki itu jatuh hati kepada sahabatnya. Tanpa pernah sahabatnya tau dan tanpa pernah ia menceritakan tentang perasaannya, ia tetap setia mendengar cerita dari sahabatnya.


Sebotol anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tau. Kamu terus menanti. Segelas Air putih.

Entah. Aku sempat merasakan bagaimana yang dirasakan lelaki dalam Curhat Buat Sahabat ini. Terlalu getir. Seorang yang mengorbankan apapun demi sahabatnya. Sahabat yang membuatnya jatuh hati. Namun sayang, dia terlalu takut untuk mengungkapkannya dan lebih memilih untuk mendengarkan cerita-cerita cinta sahabatnya bersama orang lain.

Entah. Siapa yang salah? Bagaimana bisa seseorang jatuh hati kepada orang yang hatinya sudah dimikili? Bagaimana bisa seorang yang menamakan dirinya sebagai sahabat namun tidak pernah tahu apa yang dirasakan sahabatnya?


He is thinking about how much he loves you.

But you just want somebody else.


And anything happened just because you never know what does he really fell.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehidupan: Perang Propaganda

              Dulu waktu kuliah, saya diajarkan salah satu mata kuliah yang sangat menarik. Mata kuliah apakah itu? Ya, Mata Kuliah Intelijen. Dosen intelijen saya kala itu cukup dapat dibilang berpenampilan nyentrik. Sebagai pembanding dan agar para pembaca dapat membayangkan, saya beri tau dulu bahwa saya adalah seorang mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) yang cukup memiliki prestige. Bisa dibayangkan kan bagaimana cara berpakaian mahasiswa dan dosen-dosennya. Mahasiswanya ada seragam yang sudah ada jadwalnya. Hmm, iya, masih seperti pada jaman SMA yaa. Pun begitu juga para dosen yang senantiasa memperhatikan seragam waktu mengajar yang sesuai dengan kode etik yang berlaku. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk dosen mata kuliah intelijen. Alih-alih berpakaian rapi dengan kemeja, celana bahan, dan sepatu pantofel, dosen saya pada mata kuliah tersebut berpakaian layaknya anak tongkrongan. Kaos  deus ex machina , celana...

Sajak untuk Beranjak

Beranjak ? Entah sudah berapa lama kakiku tak melangkah. Menantikan kau, seseorang yang telah berada di antah berantah. Yang terasa kian menjauh, yang tak bisa kukejar walau telah berpeluh peluh. Mungkin saja kau telah bahagia dengan duniamu yang baru, yang mungkin saja kau anggap lebih cemerlang tanpa kehadiranku. Ketahuilah, asalkan saja ku tau jika kau bahagia aku pun dapat menerimanya. Meski harus berteman dengan kesendirian yang meracun diriku secara perlahan, dan kehampaan yang tanpa permisi menelusup dalam hati. Ayunan gontai kakiku berusaha beranjak. Menjelma menjadi segelayut luka yang menghiasi sepetak altar dalam jiwa. Tempat dimana dulu kau bercengkerama manja hingga langit berubah jingga merona. Disini, disebuah tempat yang redup kau menciptakan siluet sang senja. Diujung malam, diantara gelap yang tersadar. Aku menatap langit dengan milyaran bintang, dan secuil rindu yang meraksasa diangkasa. Di temani sang dewi malam yang menatapku dengan pandangannya yang s...

Perihal Rindu

Wahai Tuan, apa untungnya memupuk rindu ? Tentu ada, mengapa puan bertanya seperti itu ? Karna rindu yang aku dapati yang ada hanya menyayat hati. Lantas apa untungnya bagimu tuan ? Wahai puan, hakikatnya rindu tidaklah menyayat hati. Pun, jika memang begitu yang puan dapat, puan telah salah menaruh hati. Bintaro, 29 Juli 2018