Langsung ke konten utama

Tolong, pahamilah

Bersama senandungku yang terkadang sumbang
Sepercik kisah kita tak kunjung padam dari ingatan
Rindu ini tiba-tiba datang terkenang
Tajam, menghujam dalam bayang

Ku tau, engkaupun mesti rindu dan itu pasti sulit
Engkau diujung sana di kaki langit
Yang hanya bisa kutemui dalam doa sampai terlelap
Ketika rindu itu datang bersama gelap

Bersama kopi panas yang akhir-akhir ini sering menemaniku
Ku harap tiada cemas yang hinggap dalam hatimu
Dan membuatnya meranggas kemudian engkau pergi bergegas

Lawan arus rindu seperti biasanya
Rawatlah rasa itu selamanya
Jangan meragu, ku merindumu, nona
Mengertilah, pahamilah
Aku sedang berjuang
Maaf


-il surya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merah

Bersama senja, aku temukan suasana paling teduh. Bersamanya, hati ini luluh. Seperti biasa, aku menikmati goresan cahaya yang perlahan sirna. Seperti biasa, aku menikmati pudarnya jingga. Melawan angin rindu yang biasanya, tumbuh keinginan untuk selalu bersamanya. Aku tak pernah siap untuk merindu. Untuknya, aku ingin kata-kata kita saling beradu. Untuknya, aku tak pernah ingin engkau membisu. Aku hanya ingin kita bisa sejenak bercengkrama. Tanpa peduli apa siapa ataupun bagaimana. Cakrawala senja yang merah, ciptakan hati dengan secarik gelisah. Entah.

Putih

Kita. Merajut kasih dikala gelap. Menikmati tiap prosesnya bersama fajar. Membangunkan tiap-tiap jiwa dari lelap. Menciptakan rindu yang menjalar-jalar. Entah. Terkadang beberapa sesal muncul begitu saja. Ketika memori masa laluku terbayang seketika. Ya. Aku selalu tahu. Dan tak mungkin aku tak tahu. Bait-bait itu. Sajak-sajak itu. Dan semua tentang masa-masa itu. Mungkin karena itulah, sesal ini enggan berlalu. Kali ini, sesalku tercipta karenamu. Ya, ini untukmu. Wahai nona yang kini menjadi secuil awan putih. Ditengah angkasa yang maha luas. Sendirian. Kesepian. Maaf.