Langsung ke konten utama

Jatuh

Hei puan

Puan tau ? Aku jatuh hati.

Benar, puan. Aku jatuh hati. Aku jatuh hati pada segala keindahan yang diciptakan Tuhan semesta alam. Laut. Pantai. Gunung. Rumput. Bunga. Pepohonan.
Dan dirimu.

Gunung Lawu, 24 Januari 2019
Ditulis setelah diterpa badai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehidupan: Perang Propaganda

              Dulu waktu kuliah, saya diajarkan salah satu mata kuliah yang sangat menarik. Mata kuliah apakah itu? Ya, Mata Kuliah Intelijen. Dosen intelijen saya kala itu cukup dapat dibilang berpenampilan nyentrik. Sebagai pembanding dan agar para pembaca dapat membayangkan, saya beri tau dulu bahwa saya adalah seorang mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) yang cukup memiliki prestige. Bisa dibayangkan kan bagaimana cara berpakaian mahasiswa dan dosen-dosennya. Mahasiswanya ada seragam yang sudah ada jadwalnya. Hmm, iya, masih seperti pada jaman SMA yaa. Pun begitu juga para dosen yang senantiasa memperhatikan seragam waktu mengajar yang sesuai dengan kode etik yang berlaku. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk dosen mata kuliah intelijen. Alih-alih berpakaian rapi dengan kemeja, celana bahan, dan sepatu pantofel, dosen saya pada mata kuliah tersebut berpakaian layaknya anak tongkrongan. Kaos  deus ex machina , celana...

Sajak untuk Beranjak

Beranjak ? Entah sudah berapa lama kakiku tak melangkah. Menantikan kau, seseorang yang telah berada di antah berantah. Yang terasa kian menjauh, yang tak bisa kukejar walau telah berpeluh peluh. Mungkin saja kau telah bahagia dengan duniamu yang baru, yang mungkin saja kau anggap lebih cemerlang tanpa kehadiranku. Ketahuilah, asalkan saja ku tau jika kau bahagia aku pun dapat menerimanya. Meski harus berteman dengan kesendirian yang meracun diriku secara perlahan, dan kehampaan yang tanpa permisi menelusup dalam hati. Ayunan gontai kakiku berusaha beranjak. Menjelma menjadi segelayut luka yang menghiasi sepetak altar dalam jiwa. Tempat dimana dulu kau bercengkerama manja hingga langit berubah jingga merona. Disini, disebuah tempat yang redup kau menciptakan siluet sang senja. Diujung malam, diantara gelap yang tersadar. Aku menatap langit dengan milyaran bintang, dan secuil rindu yang meraksasa diangkasa. Di temani sang dewi malam yang menatapku dengan pandangannya yang s...

Perihal Rindu

Wahai Tuan, apa untungnya memupuk rindu ? Tentu ada, mengapa puan bertanya seperti itu ? Karna rindu yang aku dapati yang ada hanya menyayat hati. Lantas apa untungnya bagimu tuan ? Wahai puan, hakikatnya rindu tidaklah menyayat hati. Pun, jika memang begitu yang puan dapat, puan telah salah menaruh hati. Bintaro, 29 Juli 2018